Kamis, 15 Januari 2015

When We Met


Zie berdehem pelan, ''Jen, kenalin ini Kak Rian temannya kak Zen. Kak Rian ini Jen.''

Rian tak melepaskan tatapannya dari Jen selama Zie memperkenalkan mereka. Iris kelamnya seolah mengebor kedalam iris coklat Jen. Dia mengulurkan tangannya. "Rian.''

Jen menangkap uluran tangannya. "Januari. Tapi kau bisa memanggilku Jen. Teman-temanku juga memanggilku begitu. Senang bertemu denganmu.''

Senyum Rian mengembang. Senyum-sangat-pria miliknya. "Pleasure is all mine, Januari.''

"Aku akan lebih senang kalau kak Rian bisa memangilku Jen saja." Sahut Jen kalem.

"Baiklah. Januari. "

Jen memberengut. Senyum Rian semakin melebar.

"Aku lebih suka memangilmu Januari, seperti teman-temanmu. Karena aku sama sekali tak tertarik menjadi temanmu.''

Harusnya Jen marah. Harusnya Jen merasa tersinggung dengan kata-kata Rian. Tapi saat Rian mengucapkannya ada seperti ada listrik yang mengalir di antara mereka. Karena tangan mereka masih bersalaman. Dan jangan lupakan mata Rian yang menatap Jen intens. Melupakan dua pasang mata lainnya yang menatap mereka berdua.

Jen mengedipkan matanya. Sekali. Dua kali. Dan seperti kesusahan menelan sesuatu.

"Dan panggil aku Rian. Hilangkan prefix kak.''

Jen tergoda untuk memutar bola matanya. Si Ganteng Arogan. Ada sesuatu dari Rian yang membangkitkan sisi gelapnya Jen. Rian seorang Alpha Male. Dan orang yang sangat diinginkannya tapi juga berbahaya baginya.

"Fine. Rian.''

Jen menarik tangannya, Rian pun melepaskan tangan Jen.