Kamis, 11 Juli 2013

Gerimis

Seharusnya aku tak perlu terluka. Seharusnya aku tak perlu merasakan sakit ini. Toh ini hanya lah sebuah air yang menari dari langit. Ini hanya berupa tetesan-tetesan air yang terjatuh. Hanya liquid yang tumpah dari awan-awan. Hanya saja, apapun mereka dan kau menyebutnya bagaimana, tapi bagiku itu tetaplah gerimis. Hujan yang belum menderas.
Dan bagaimanapun wujudnya gerimis selalu meninggalkan luka tersendiri dihatiku. Sayatan yang mengering seakan disiram kembali dengan air garam kemudian ia kembali menganga dan merona. Memamerkan betapa menjiijikkannya luka itu. Luka yang mungkin tak bisa tersentuh oleh air.  Perih, pedih dan mengiris.
Gerimis yang datang selalu menggoreskan luka baru di tumpukan luka lama. Gerimis seperti hatiku yang selalu hujan.
Gerimis itu kamu. Karena kau yang menyukai gerimis. Dan di bawah gerimis juga kau bertemu denganku. Saat gerimis kau meyatakan keinginanmu menjaga dan memiliki hatiku. Aku masih menerima itu. Aku juga bersyukur akan hal itu. Tapi semua keindahan gerimis meluruh bersama dengan terbenamnya jasadmu di liang lahat beberapa bulan lalu.
Seperti kau yang menyukai gerimis dan basah. Mungkin juga luka ini akan selalu tercurah air gerimis dan basah. Seolah gerimis itu tak mengijinkan lukaku mengering.
Meski begitu aku tak pernah menolak gerimis. karena dengan berdiri di bawahnya aku sedikit mendapatkan perlindungan. Aku tak perlu sok kuat. Aku tak perlu menutupi wajahku. Sebab sang geimis telah membantuku memudarkan gerimis lain. Gerimis yang berasal dari mataku.