Kamis, 15 Januari 2015

When We Met


Zie berdehem pelan, ''Jen, kenalin ini Kak Rian temannya kak Zen. Kak Rian ini Jen.''

Rian tak melepaskan tatapannya dari Jen selama Zie memperkenalkan mereka. Iris kelamnya seolah mengebor kedalam iris coklat Jen. Dia mengulurkan tangannya. "Rian.''

Jen menangkap uluran tangannya. "Januari. Tapi kau bisa memanggilku Jen. Teman-temanku juga memanggilku begitu. Senang bertemu denganmu.''

Senyum Rian mengembang. Senyum-sangat-pria miliknya. "Pleasure is all mine, Januari.''

"Aku akan lebih senang kalau kak Rian bisa memangilku Jen saja." Sahut Jen kalem.

"Baiklah. Januari. "

Jen memberengut. Senyum Rian semakin melebar.

"Aku lebih suka memangilmu Januari, seperti teman-temanmu. Karena aku sama sekali tak tertarik menjadi temanmu.''

Harusnya Jen marah. Harusnya Jen merasa tersinggung dengan kata-kata Rian. Tapi saat Rian mengucapkannya ada seperti ada listrik yang mengalir di antara mereka. Karena tangan mereka masih bersalaman. Dan jangan lupakan mata Rian yang menatap Jen intens. Melupakan dua pasang mata lainnya yang menatap mereka berdua.

Jen mengedipkan matanya. Sekali. Dua kali. Dan seperti kesusahan menelan sesuatu.

"Dan panggil aku Rian. Hilangkan prefix kak.''

Jen tergoda untuk memutar bola matanya. Si Ganteng Arogan. Ada sesuatu dari Rian yang membangkitkan sisi gelapnya Jen. Rian seorang Alpha Male. Dan orang yang sangat diinginkannya tapi juga berbahaya baginya.

"Fine. Rian.''

Jen menarik tangannya, Rian pun melepaskan tangan Jen.

Rabu, 03 September 2014

Siluet

Berdetak kencang hatiku
Bagai gemuruh ombak di laut lepas
Senyuman menggeserkan otot bibirku
Angin membisikkan sipu di pipi
Merona bak tomat matang

Konyol
Aku tak mengerti efeknya kan seperti ini
Nyatanya di hadapanku hanya ada kau
Bukan
Tapi siluetmu
Separuh wajahmu yang bersinar memantulkan sinar surya
Dan separuhnya yang terperangkap bayangan

Terpesona
Aku seolah disapa cinta pandangan pertama
Percayakah aku?
Entah akan mengelak atau mengakuinya
Jawabnya entah di mana

Sabtu, 23 Agustus 2014

Soba ni Iru (Di sampingku)

Berdiri di bawah pohon di tengah kota seperti ini tak cukup untuk melawan panasnya siang ini. Kota ini luar biasa. Tapi aku merindukan kampung halamanku. Dekat pegunungan yang sejuk dengan ribuan pohon tumbuh menghijau di sekitarnya. Sejuk untuk dipandang maupun untuk dilihat. 

Saat ini di sampingku, Mey mulai menghentakkan kakinya. Kesal menunggu dua rekan kami yang tak kunjung menunjukkan hidungnya meskipun mereka bilangnya tak akan lama. Ini sudah menit ke 16 sejak mereka berdua pamit, meninggalkan aku dan Mey menunggu di tempat asing. Yah, setidaknya ini tempat asing bagiku karena ini kali pertama aku kesini. 

"Ini sudah hampir dua puluh menit dan mereka berdua belum kembali? Oh Tuhan, tabahkan aku." 

Sepertinya ocehan Tuan-Putri-Mey segera dimulai. 

"Jangan berlebihan Mey. Ini baru enam belas me-"

"Sama saja Rin. Paling-paling Mike melihat kedai buka saat di jalan, dan tak bisa menolak untuk tak mencicipi makanan. Seperti yang kita tahu bagaimana terobsesinya Mike dengan makanan." Suara Mey mengecil kata terakhir saat mendengar dua pemuda asing menyapa kami. Kami tak menyadarinya. Mereka sudah ada di hadapan kami. 

Terlalu dekat. Terlalu dekat. Toleransiku terhadap orang asing tak terlalu bagus. Mungkin kalau aku harus mengatakannya dengan lebih jelas; aku tak menyukai orang asing. 

Oh, aku berharap aku tak menyetujui ajakan si kembar Mey dan Mike untuk datang melihat festifal ini. Ide meringkuk di sofa di kamar dengan novel-yang-ingin-segera-aku-selesaikan-membaca terdengar menggoda. Tapi itu semua hanya terjadi di kepalaku, karena kenyataannya aku sekarang di sini dengan dua orang asing di depanku.

Pemuda asing itu terus saja berbicara kepada kami. Seorang bertanya apakah kami sedang menunggu orang, yang lainnya menyambungnya dengan mengajak kami untuk pergi bersama mereka. Seolah kami akan mau saja!

Aku sedikit berjalan mundur. Tangan yang berada di tali tasku mengerat. 

"Maaf. Kami memang sedang menunggu seseorang." Mey berbicara dengan tenang walaupun dalam hati aku juga tahu dia juga ketakutan seperti aku. Tapi tidak dalam kadar yang sama. 

"... iya cepatlah. Kami sudah hampir kering seperti ikan asin menunggu di sini." 

Suara yang tak asing tertangkap gendang telingaku. Mike berjalan dari belakang dua pemuda asing ini dengan handphone di telinganya. Sepertinya dia sedang berbicara dengan Rama atau Jun. Dua teman sekelas kami yang lain yang akan ikut ke festival. 

Mey menghela napas lega mengetahui kehadiran kembarannya. Matanya mengikuti gerakan Mike yang berjalan kesamping Mey dan berdiri dengan santai di sampingnya. "Hm. Oke." Dengan Mike masih melanjutkan percakapannya. 

Aku menyadari suara-suara pemuda asing itu mulai memudar. Menolehkan kepalaku ke samping yang lain. Dan dia sudah berdiri di sebelahku. Dengan santainya memainkan HP, sedang tangan yang lainnya dimasukkan ke saku. Tanpa kusadari senyum konyol muncul begitu saja di wajahku. Melirik sebentar ke dua pemuda asing tadi mereka sudah menghilang. Secercah perasaan hangat merembes ke hatiku. 

Kembali memperhatikan dia yang masih asik dengan gadgetnya. Kini senyum tulus sudah menggantikan senyum konyol yang tadi seenaknya terlukis di wajahku. "Makasih." Suaraku hampir seperti sebuah bisikan.

Satu alisnya terangkat sedikit. "Hm?" Dan wajah yang biasanya tanpa ekspresi itu kini sedikit menoleh padaku.

"Makasih, sudah ada di sampingku."

"Aku tak mengerti apa maksudmu." Nada datarnya yang biasa. 

Tapi aku tak bisa menghentikan diriku untuk tetap merasakan kehangatan di hati ini saat sudut bibirnya sedikit tertarik keatas. Senyum khasnya itu! 

Dia. Ya, dia. Pemuda yang seenaknya telah mencuri hatiku sejak sepuluh tahun yang lalu. Dan bodohnya aku yang baru menyadarinya akhir-akhir ini.

Selasa, 25 Februari 2014

Love at the First Sight

Do you believe about love at the first sight?
Aku percaya. Dan aku juga sering mengalaminya. Tapi bukan jatuh cinta ke orang. Melainkan jatuh cinta pada benda.
Jatuh cinta pada pandangan pertama itu bukan semata hanya dari penampilan saja. Ada unsur lain yang menyertainya. Bagaimana hati akan merespon dari respon yang dihasilkan otak setelah melihatnya.
Jatuh cinta bisa berkali-kali. Entah itu jatuh cinta pada orang ataupun pada benda. Rasa cinta kepada benda biasanya cenderung menimbulkan keprotektivan. Tentu saja rasa ingin melindungi pada sesuatu yang dicintai itu wajar. Sewajar rasa cinta yang tumbuh saat pertama memandang.
Ketika rasa cinta pandangan pertama itu hadir seolah hati berbisik, ''This is it.'' Dan BOOM, aku harus memilikinya. Dan setelah itu tak ada lagi pilihan selain berusaha memilikinya.

Kamis, 11 Juli 2013

Gerimis

Seharusnya aku tak perlu terluka. Seharusnya aku tak perlu merasakan sakit ini. Toh ini hanya lah sebuah air yang menari dari langit. Ini hanya berupa tetesan-tetesan air yang terjatuh. Hanya liquid yang tumpah dari awan-awan. Hanya saja, apapun mereka dan kau menyebutnya bagaimana, tapi bagiku itu tetaplah gerimis. Hujan yang belum menderas.
Dan bagaimanapun wujudnya gerimis selalu meninggalkan luka tersendiri dihatiku. Sayatan yang mengering seakan disiram kembali dengan air garam kemudian ia kembali menganga dan merona. Memamerkan betapa menjiijikkannya luka itu. Luka yang mungkin tak bisa tersentuh oleh air.  Perih, pedih dan mengiris.
Gerimis yang datang selalu menggoreskan luka baru di tumpukan luka lama. Gerimis seperti hatiku yang selalu hujan.
Gerimis itu kamu. Karena kau yang menyukai gerimis. Dan di bawah gerimis juga kau bertemu denganku. Saat gerimis kau meyatakan keinginanmu menjaga dan memiliki hatiku. Aku masih menerima itu. Aku juga bersyukur akan hal itu. Tapi semua keindahan gerimis meluruh bersama dengan terbenamnya jasadmu di liang lahat beberapa bulan lalu.
Seperti kau yang menyukai gerimis dan basah. Mungkin juga luka ini akan selalu tercurah air gerimis dan basah. Seolah gerimis itu tak mengijinkan lukaku mengering.
Meski begitu aku tak pernah menolak gerimis. karena dengan berdiri di bawahnya aku sedikit mendapatkan perlindungan. Aku tak perlu sok kuat. Aku tak perlu menutupi wajahku. Sebab sang geimis telah membantuku memudarkan gerimis lain. Gerimis yang berasal dari mataku.

Sabtu, 29 Juni 2013

The Guy Without a Name

Langit sudah menggelap sejak dua setengah jam yang lalu. Seorang gadis berambut hitam sebahu berrjalan sendirian menelusuri koridor demi koridor yang mulai sepi di asramanya, asrama putri SMA KARYA.
SMK KARYA merupakan sekolah asrama yang bertaraf internasional. Dimana asramanya dibagi menjadi asrama putra dan asrama putri, yang letaknya berada di kanan-kiri gedung utama atau gedung sekolah. Sedangkan para guru tinggal di kamar yang terletak di samping ruangan kelas tempatnya mengajar.
Emely, gadis itu sedikit menggerutu, menyesali karena sebelumnya terlalu menikmati proses pembuatan esai sastra Jepangnya yang mengakibatkan ia tak bisa mengikuti acara makan malam di aula tengah. Gadis itu sedikit meringis sepertinya penyakit maag Emely sedang tak bisa diajak kompromi. Terpaksa dia harus pergi keluar asrama untuk membeli  pengganjal perut. Tak mungkin ia datang ke aula tengah dimana sang waktu sudah melewati jam bukanya aula tengah bagi para siswa, yaitu sampai jam 8.30 malam, sekarang sudah jam 8.43. Setidaknya sekolah masih memberi kelonggaran bagi siswanya untuk keluar asrama, asalkan tak melewati jam malam yang akan berakhir jam sepuluh nanti.
Suasana dekat gerbang asrama jauh berbeda. Tak banyak pasangan kekasih disana. Sepi. Hanya ditemani bunyi daun-daun yang saling bergesekan karena disapa angin. Sebagian daun itu ada yang lepas dari rantignya, melayang-layang, sampai saatnya tiba daun itu untuk jatuh ke tanah.
Emely melangkahkan kakinya ringan, beberapa kali tanpa sengaja menginjak dedaunan yang jatuhnya bebas di tengah jalan. Tinggal beberapa langkah lagi Emely akan sampai di luar gerbang dan–
Tik!
-tak disangka semua lampu di gedung dan sekitarnya padam total. Dan kepadaman itu disambut beberapa teriakan ketakutan plus kaget dari para siswi di sekitarnya. Selanjutnya terdengar cicitan dari entah berapa siswi lainnya. Setidaknya mereka sedikit beruntung dari Emely kali ini.
Sedikit-banyak gelombang ketakutan menggelayutinya. Sejujurnya dia memang sangat tak menyukai kegelapan. Atau bisa dibilang fobia gelap. Dan dalam keadaan seperti ini sama sekali tak pernah berani dipikirkannya. Tubuhnya sedikit bergetar, pikirannya kalut. Dan kedua iris coklatnya menatap horror kesekeliling.
Terselip perasaan lega kala tak jauh di depannya ada lampu kota di samping kiri gerbang sekolah. Dengan keadaan lampu itu yang tetap menyala. Sepertinya memang hanya area sekolah dan asrama saja yang sedang bermasalah dengan penerangan.
Tak ingin memperlambat waktunya di kegelapan, segera kakinya melangkah dengan sedikit cepat. Kedua matanya hanya terfokus dengan lampu di depan sana, menghiraukan fakta bahwa sebelum gerbang ada cabang jalan lain dari asrama putra. Sekitar dua puluh langkah lagi Emely akan samp-
DUKK.... “Kyaaaa...!” BRUKK!!
Hilang sudah ketakutan Emely akan kegelapan saat itu. Pikirannya terfokus oleh rasa sakit yang menjalari tubuhnya saat terhempas ke jalanan beraspal beberapa detik lalu. Otaknya segera memproses apa yang menyebabkannya sanggup terhempas ke tanah dengan posisi yang tak enak –tentu saja.
Dua langkah di depannya ada sepasang kaki tertutup celana jeans panjang. Jika dilihat dari posisinya saat ini sepertinya yang menjadi korban (terjatuh) disini hanya dia. Kemudian tubuh atas pemuda itu terbalut kaos pendek dengan kerah berdiri. Selanjutnya irisnya dihadapkan oleh sepasang iris segelap malam yang balik menatapnya tajam. Rambutnya yang ditata sedemikian rupa sehingga menantang gravitasi.  Dengan sebagian wajahnya yang terhalang cahaya, menjadikannya sungguh mempesona.
Satu kata terlintas dipikirannya saat ini. ‘Indah.’ Begitulah kalau Emely melihat suatu seluit. Karena sejak awal dia mengenal photography seluit selalu menjadi objek pertama yang akan dia cari.
“Dasar mata-empat ceroboh.” Pemuda itu mengatakannya dengan dingin dan sedikit tekanan.
Sepatah kata itu telah menghancurkan semua ‘indah’ di kepalanya. Emely mengernyitkan alis kesal.
“Hei, tak perlu marah seperti itu, kan? Lagipula yang terjatuh disini aku bukan kamu. Yang sakit juga aku. Kenapa kamu yang marah?” balas Emely tak kalah sengit.
Pemuda bermata gelap itu hanya memutar kedua bola matanya, bosan. Dia membalik badannya tanpa menghiraukan gadis itu yang masih di posisi terjatuhnya.
 “Hei, tunggu!”
Sampai seruan Emely membuat langkah kakinya berhenti. “Hm?” sahutnya tanpa membalikkan badan, hanya kepalanya saja yang menoleh untuk mempertegas bahwa pemuda itu memperhatikan apa yang akan diucapkan gadis itu selanjutnya. Emely sendiri tak mengerti kenapa bibirnya reflek memanggil pemuda tak dikenalnya itu.
Emely lekas bediri dan menepuk-nepuk bagian belakang celana –yang menurutnya kotor. Membersihkan debu-debu yang sempat tertempel tadi.
“Umm.. anu,” Emely menyamankan letak kacamatanya, kebiasaan saat gugup. “Sepertinya kau berjalan kearah kesana,” Emely menunjuk dengan tangannya,”Yang ku asumsikan ke kedai mie ayam seberang sana, apa aku benar?” gadis itu bertanya dengan sedikit ragu, tapi kakinya dengan mantap berjalan mendekati tempat sang pemuda berdiri.
“Hm. Apa urusanmu?” Emely sedikit tersentak. Pasalnya pemuda itu seolah bertanya, hanya saja dengan nada datarnya justru terkesan dingin tak bersahabat.
“Kebetulan aku juga mau kesana. Dan aku sedikit merasa tak nyaman dengan keremangan ini. Bagaimana kalau kita kesana bersama, itu kalau kau tak keberatan.” Emely berucap lirih dan penuh nada permohonan, berharap pemuda itu tak meninggalkannya di tengah keremangan cenderung  gelap –yang menurutnya menakutkan- ini.
Ketika sosok didepannya membalik badan, langsung saja iris hitam  berhadapan dengan iris coklat yang bersinar penuh harap. Memang keadaan yang tak sepenuhnya gelap sedikit menyisakan cahaya untuk melihat ekspresi lawan bicaranya. Sang pemuda seperti sedang menimbang-nimbang apakah dia akan mengijinkan gadis yang baru ditemuninya itu atau tidak.
Sedikit kecurigaan masuk ke hatinya, mungkinkah itu hanya akal-akalan salah satu fans-nya untuk bisa makan bareng? Well, secara teknis gadis itu hanya bilang kesana bareng. Yang artinya perjalanan menuju ke kedai itu bareng, bukan makannya yang bareng. Tapi itu tak menutup kemungkinan juga kan? Oh, ayolah. Makan bareng idolamu itu merupakan salah satu impianmu, bukan? Dan pemuda ini merupakan seorang kapten footsal. Memiliki otak dengan kemampuan diatas rata-rata, serta di anugrahi wajah yang rupawan. Namun sayangnya stok ekspresi yang dimilikinya teramat minim.
Ah, ada yang sedikit aneh disini. Gadis itu bahkan tidak memanggil namanya tadi. Seperti kebanyakan para fans-nya yang sudah-sudah akan langsung memanggil bahkan tak ragu untuk meneriakkan namanya. Kalau dia termasuk fans-nya otomatis dia akan langsung memanggil namanya, bukan dengan sebutan “hei”. Itu panggilan untuk orang yang belum kau kenal kan?
Anggukan singkat sebagai jawawbannya sanggup membuat senyum merekah diwajah sang gadis.
 “Makasih,” ucap gadis itu dengan senyum tulusnya. Emely lekas menghembuskan nafas lega. Tak sadar bahwa dirinya sempat menahan nafas menunggu jawaban pemuda itu. Dipercepat langkahnya hingga menyejajari langkah pemuda yang sekarang di sebelah kanannya.
Terlalu asyik dengan pikirannya sendiri Emely sampai tak menyadari keberadaan pemuda itu yang sekarang sudah berdiri dihadapannya dan berhenti.
Emely merasakan ada sesuatu yang sedikit keras ditubruk oleh dahinya. Ketika dia mendongak terlihat sepasang mata yang menatapnya sedikit tajam (lagi). Ternyata lengan pemuda itu yang tadi mencium dahinya. Gadis itu mengerutkan kening, sejak kapan pemuda itu ada dihadapannya? Bukankah tadi mereka berjalan beriringan?
“Apa berjalan dengan menabrak itu kebiasaanmu?” ucapnya sarkastik.
Emely tak menyangka kalau ucapan pemuda itu lebih pedas. Gantian dia yang memutar bola matanya. “Tentu saja tidak.” Balasnya kesal dengan menghentakan salah satu kakinya.
Dia tak menghiraukan tingkah gadis yang sedang asik dengan gerutuannya. Sepasang iris tajamnya memastikan jalanan aman untuk menyeberang. Terima kasih untuk mendiang Ibunya, yang selalu mendidiknya untuk mendahulukan  keselamatan wanita.
Setelah dipastikan aman untuk menyeberang, tangan kirinya meraih jemari kanan Emely dan menggenggamnya. Menarik gadis itu untuk mengikutinya menyeberang jalan. Ia sedikit tak percaya dengan apa yang diperbuatnya. Tak biasanya ia bersikap lembut kepada seorang gadis. Bahkan sekarang menggenggam tangan gadis itu. Bergandengan tangan dengan seorang gadis. Sepertinya otak dan hatinya sedang tak sinkron.
Emely yang masih sibuk menggerutu tersentak kaget saat tangannya ditarik. Dia hanya bengong menatap tangannya yang terasa kecil didalam genggaman tangan besar itu. Emely sendiri tak menyangka. ‘Hangat,’ batinnya. Kedua pipi gadis itu bersemu. Seumur hidupnya laki-laki yang yang pernah menggandengnya hanya ayah dan kakaknya. Dan ini merupakan kali pertama untuknya digandeng oleh seorang pemuda.
Kakinya pun reflek mengikuti pemuda itu menyeberang. Karena letak kedai mie ayam yang berada di seberang. Setelah sampai di walking street pun pemuda juga belum melepaskan tanganya. Baru setelah mereka sampai di kedai genggaman itu terlepas.
“Sudah sampai.”
 “Aa.... Sebagai rasa terima kasihku karena telah menemaniku kesini akan ku traktir kau mie ayam.”
“Hn?” Pemuda itu menaikan salah satu alisnya. “Tujuanku memang mau kesini, kau sendiri sudah menebaknya tadi.  Jadi, tak perlu. Lagipula aku tak terbiasa makan ditraktir oleh seorang gadis.”
Sepertinya harga diri pemuda itu terlalu tinggi. “Tapi... ”
“Ya?” Gadis itu mengadahkan kepalanya menatap mata pemuda yang tingginya satu kepala diatasnya.
“Jika kau berkeras, kau boleh menemaniku makan, tapi tetap aku tak mau kau yang bayar”.
Uh! Disini jadi terlihat sang gadis yang seolah-olah mengejar pemuda itu. Merasa tak ada pilihan lain, daripada dia harus makan sendirian seperti orang hilang, jadi tak apalah. Lagipula dia juga tak merasa dirugikan.
Gadis itu tersenyum. “Kalau begitu, ayo!”
_._._._._._._._._._._._
Selang beberapa menit mereka menunggu pesanan, sialnya kedai ini juga terkena jatah listrik padam. Alhasil, sekarang mereka berdua makan mie ayam dengan lilin sebagai penerangannya. Entah kebetulan atau tidak pelanggan kedai ini hanya mereka berdua. Jadi, berasa candle light dinner, eh?
“Sepertinya aku belum pernah melihatmu sebelumnya, anak baru?”
Emely menggangguk bersemangat, tak menyangka pemuda itu akan mengajaknya berbicara. “Umh! Aku baru sebulan disini.”
Selanjutnya obrolan terus berlanjut sampai pesanan mereka datang. Namun, ketika acara makan berlangsung dalam diam. Tak lebih dari dua puluh menit berlalu isi dalam mangkuk telah tandas.
_._._._._._._._._._._._
“Kok masih gelap ya?” Emely bergumam lirih.
Tanpa disadarinya seseorang disampingnya masih dapat mendengarnya. “Disini memang masih gelap, tapi biasanya di asrama sudah nyala. Takut gelap?”
Sejujurnya Emely malu mengakuinya. Meskipun kata-kata pemuda itu terkadang pedas dan tak bersahabat, setidaknya ia telah berlaku cukup baik padanya. Anggukan lemah sebagai jawabannya pada pemuda itu.
Setelahnya Emely merasakan jemarinya kembali hangat. Tangannya kembali digenggam oleh seorang disampingnya. Pemuda itu menunjukkan kepeduliannya kepada Emely dengan bagaimana caranya memperlakukan sang gadis. Emely sendiri terasa menikmati perlakuan pemuda itu.
Mereka –Emely dan sang pemuda- berjalan berdua dalam keremangan sinar bulan, dengan saling bergandengan tangan. Orang lain yang melihatnya mungkin bisa mengira mereka sepasang kekasih. Namun nyatanya mereka hanya orang yang baru bertemu dalam tabrakan yang tak diharapakan. Umm, hei, lantas bukan berarti pertemuan mereka ini tak pernah mereka harapkan, kan?
“Emely!” Terdengar seruan dari arah asrama, kemudian disusul seorang yang berlari kearah Emely, sepertinya ia yang memanggilnya tadi.
“Hei, Ran.” Sahut Emely.
Ran yang merupakan roommate Emely tanpa sengaja menatap sepasang tangan yang masih bertautan. Sampai pemilik tangan itu tersadar.
“Ah.” “Aa.”
Serentak mereka saling menarik tangannya. Suasana kikuk menyelimuti keduanya, sedangkan sang pengganggu hanya senyum-senyum tanpa dosa.
“Ups! Sorry, kalau aku mengganggu.”
Emely tambah gelagapan, ia tak pernah tertangkap sedang berduaan dengan laki-laki sebelumnya. Dan ia juga tak menyangka kalau rasanya akan segrogi ini.
“Ee.. Ran.. ini tidak-”
“Sebaiknya aku kembali ke asrama dulu. Permisi,” pemuda itu menghentikan kalimatnya sejenak, kemudian menatap gadis disampingnya, “Emely.” Tanpa  menunggu jawaban Emely ia langsung berbelok menuju asrama putra.
Emely hanya mematung memperhatikan sampai pemuda itu menghilang dibelokan. Ia bahkan tak menyadari ada seseorang yang lain yang sedang gondok karena merasa tak dianggap kehadirannya. Tapi itu hanya sesaat, sampai tergantika oleh senyuman jahil dibibirnya.
“Cie.. cie.. yang habis kencan.”
Seketika wajah Emely kembali menghangat, malu. “Apaan sih.” Bahkan ia sendiri tak mau menyangkal kata-kata temannya.
“Jadi, siapa namanya?”
“Nama siapa?”
“Ck. Pemuda itu. siapa lagi?”
Emely tersentak, baru menyadari bahwa ia memang belum tahu nama pemuda itu. “Errr... tidak tahu.”
“WHAT? KAU KENCAN DENGAN PEMUDA, DAN KAU TAK TAHU NAMANYA??”
Emely langsung membekap mulut sabahatnya. “Pelankan suaramu. Kau membuatku malu.”
Dibalik tembok yang membatasi arah pandang jalan ini dengan jalan ke asrama putra, bersender seorang pemuda yang dimaksud sedang menahan senyumnya.  “Hm, jadi gadis itu belum tahu namaku ya?”

THE END