Langit sudah menggelap sejak dua
setengah jam yang lalu. Seorang gadis berambut hitam sebahu berrjalan sendirian
menelusuri koridor demi koridor yang mulai sepi di asramanya, asrama putri SMA KARYA.
SMK KARYA merupakan sekolah asrama yang
bertaraf internasional. Dimana asramanya dibagi menjadi asrama putra dan asrama
putri, yang letaknya berada di kanan-kiri gedung utama atau gedung sekolah.
Sedangkan para guru tinggal di kamar yang terletak di samping ruangan kelas
tempatnya mengajar.
Emely, gadis itu sedikit menggerutu,
menyesali karena sebelumnya terlalu menikmati proses pembuatan esai sastra Jepangnya
yang mengakibatkan ia tak bisa mengikuti acara makan malam di aula tengah.
Gadis itu sedikit meringis sepertinya penyakit maag Emely sedang tak bisa
diajak kompromi. Terpaksa dia harus pergi keluar asrama untuk membeli pengganjal perut. Tak mungkin ia datang ke
aula tengah dimana sang waktu sudah melewati jam bukanya aula tengah bagi para
siswa, yaitu sampai jam 8.30 malam, sekarang sudah jam 8.43. Setidaknya sekolah
masih memberi kelonggaran bagi siswanya untuk keluar asrama, asalkan tak
melewati jam malam yang akan berakhir jam sepuluh nanti.
Suasana dekat gerbang asrama jauh
berbeda. Tak banyak pasangan kekasih disana. Sepi. Hanya ditemani bunyi
daun-daun yang saling bergesekan karena disapa angin. Sebagian daun itu ada
yang lepas dari rantignya, melayang-layang, sampai saatnya tiba daun itu untuk
jatuh ke tanah.
Emely melangkahkan kakinya ringan, beberapa
kali tanpa sengaja menginjak dedaunan yang jatuhnya bebas di tengah jalan. Tinggal
beberapa langkah lagi Emely akan sampai di luar gerbang dan–
Tik!
-tak disangka semua lampu di gedung dan
sekitarnya padam total. Dan kepadaman itu disambut beberapa teriakan ketakutan plus kaget dari para siswi di
sekitarnya. Selanjutnya terdengar cicitan dari entah berapa siswi lainnya.
Setidaknya mereka sedikit beruntung dari Emely kali ini.
Sedikit-banyak gelombang ketakutan
menggelayutinya. Sejujurnya dia memang sangat tak menyukai kegelapan. Atau bisa
dibilang fobia gelap. Dan dalam keadaan seperti ini sama sekali tak pernah
berani dipikirkannya. Tubuhnya sedikit bergetar, pikirannya kalut. Dan kedua
iris coklatnya menatap horror kesekeliling.
Terselip perasaan lega kala tak jauh di
depannya ada lampu kota di samping kiri gerbang sekolah. Dengan keadaan lampu
itu yang tetap menyala. Sepertinya memang hanya area sekolah dan asrama saja
yang sedang bermasalah dengan penerangan.
Tak ingin memperlambat waktunya di
kegelapan, segera kakinya melangkah dengan sedikit cepat. Kedua matanya hanya
terfokus dengan lampu di depan sana, menghiraukan fakta bahwa sebelum gerbang
ada cabang jalan lain dari asrama putra. Sekitar dua puluh langkah lagi Emely
akan samp-
DUKK.... “Kyaaaa...!” BRUKK!!
Hilang sudah ketakutan Emely akan
kegelapan saat itu. Pikirannya terfokus oleh rasa sakit yang menjalari tubuhnya
saat terhempas ke jalanan beraspal beberapa detik lalu. Otaknya segera
memproses apa yang menyebabkannya sanggup terhempas ke tanah dengan posisi yang
tak enak –tentu saja.
Dua langkah di depannya ada sepasang
kaki tertutup celana jeans panjang. Jika dilihat dari posisinya saat ini
sepertinya yang menjadi korban (terjatuh) disini hanya dia. Kemudian tubuh atas
pemuda itu terbalut kaos pendek dengan kerah berdiri. Selanjutnya irisnya
dihadapkan oleh sepasang iris segelap malam
yang balik menatapnya tajam. Rambutnya yang ditata sedemikian rupa sehingga
menantang gravitasi. Dengan sebagian
wajahnya yang terhalang cahaya, menjadikannya sungguh mempesona.
Satu kata terlintas dipikirannya saat
ini. ‘Indah.’ Begitulah kalau Emely melihat suatu seluit. Karena sejak awal dia
mengenal photography seluit selalu
menjadi objek pertama yang akan dia cari.
“Dasar mata-empat ceroboh.” Pemuda itu
mengatakannya dengan dingin dan sedikit tekanan.
Sepatah kata itu telah menghancurkan
semua ‘indah’ di kepalanya. Emely mengernyitkan alis kesal.
“Hei, tak perlu marah seperti itu, kan?
Lagipula yang terjatuh disini aku bukan kamu. Yang sakit juga aku. Kenapa kamu
yang marah?” balas Emely tak kalah sengit.
Pemuda bermata gelap itu hanya memutar
kedua bola matanya, bosan. Dia membalik badannya tanpa menghiraukan gadis itu
yang masih di posisi terjatuhnya.
“Hei,
tunggu!”
Sampai seruan Emely membuat langkah
kakinya berhenti. “Hm?” sahutnya tanpa membalikkan badan, hanya kepalanya saja
yang menoleh untuk mempertegas bahwa pemuda itu memperhatikan apa yang akan
diucapkan gadis itu selanjutnya. Emely sendiri tak mengerti kenapa bibirnya
reflek memanggil pemuda tak dikenalnya itu.
Emely lekas bediri dan menepuk-nepuk
bagian belakang celana –yang menurutnya kotor. Membersihkan debu-debu yang
sempat tertempel tadi.
“Umm.. anu,” Emely menyamankan letak
kacamatanya, kebiasaan saat gugup. “Sepertinya kau berjalan kearah kesana,” Emely
menunjuk dengan tangannya,”Yang ku asumsikan ke kedai mie ayam seberang sana,
apa aku benar?” gadis itu bertanya dengan sedikit ragu, tapi kakinya dengan
mantap berjalan mendekati tempat sang pemuda berdiri.
“Hm. Apa urusanmu?” Emely sedikit
tersentak. Pasalnya pemuda itu seolah bertanya, hanya saja dengan nada datarnya
justru terkesan dingin tak bersahabat.
“Kebetulan aku juga mau kesana. Dan aku
sedikit merasa tak nyaman dengan keremangan ini. Bagaimana kalau kita kesana
bersama, itu kalau kau tak keberatan.” Emely berucap lirih dan penuh nada
permohonan, berharap pemuda itu tak meninggalkannya di tengah keremangan
cenderung gelap –yang menurutnya
menakutkan- ini.
Ketika sosok didepannya membalik badan,
langsung saja iris hitam berhadapan
dengan iris coklat yang bersinar penuh harap. Memang keadaan yang tak
sepenuhnya gelap sedikit menyisakan cahaya untuk melihat ekspresi lawan
bicaranya. Sang pemuda seperti sedang menimbang-nimbang apakah dia akan
mengijinkan gadis yang baru ditemuninya itu atau tidak.
Sedikit kecurigaan masuk ke hatinya, mungkinkah
itu hanya akal-akalan salah satu fans-nya untuk bisa makan bareng? Well, secara teknis gadis itu hanya
bilang kesana bareng. Yang artinya perjalanan menuju ke kedai itu bareng, bukan
makannya yang bareng. Tapi itu tak menutup kemungkinan juga kan? Oh, ayolah.
Makan bareng idolamu itu merupakan salah satu impianmu, bukan? Dan pemuda ini
merupakan seorang kapten footsal. Memiliki otak dengan kemampuan diatas rata-rata,
serta di anugrahi wajah yang rupawan. Namun sayangnya stok ekspresi yang
dimilikinya teramat minim.
Ah, ada yang sedikit aneh disini. Gadis
itu bahkan tidak memanggil namanya tadi. Seperti kebanyakan para fans-nya yang
sudah-sudah akan langsung memanggil bahkan tak ragu untuk meneriakkan namanya.
Kalau dia termasuk fans-nya otomatis dia akan langsung memanggil namanya, bukan
dengan sebutan “hei”. Itu panggilan untuk orang yang belum kau kenal kan?
Anggukan singkat sebagai jawawbannya sanggup
membuat senyum merekah diwajah sang gadis.
“Makasih,” ucap gadis itu dengan senyum
tulusnya. Emely lekas menghembuskan nafas lega. Tak sadar bahwa dirinya sempat
menahan nafas menunggu jawaban pemuda itu. Dipercepat langkahnya hingga
menyejajari langkah pemuda yang sekarang di sebelah kanannya.
Terlalu asyik dengan pikirannya sendiri Emely
sampai tak menyadari keberadaan pemuda itu yang sekarang sudah berdiri
dihadapannya dan berhenti.
Emely merasakan ada sesuatu yang sedikit
keras ditubruk oleh dahinya. Ketika dia mendongak terlihat sepasang mata yang
menatapnya sedikit tajam (lagi). Ternyata lengan pemuda itu yang tadi mencium dahinya.
Gadis itu mengerutkan kening, sejak kapan pemuda itu ada dihadapannya? Bukankah
tadi mereka berjalan beriringan?
“Apa berjalan dengan menabrak itu
kebiasaanmu?” ucapnya sarkastik.
Emely tak menyangka kalau ucapan pemuda
itu lebih pedas. Gantian dia yang memutar bola matanya. “Tentu saja tidak.”
Balasnya kesal dengan menghentakan salah satu kakinya.
Dia tak menghiraukan tingkah gadis yang
sedang asik dengan gerutuannya. Sepasang iris tajamnya memastikan jalanan aman
untuk menyeberang. Terima kasih untuk mendiang Ibunya, yang selalu mendidiknya
untuk mendahulukan keselamatan wanita.
Setelah dipastikan aman untuk
menyeberang, tangan kirinya meraih jemari kanan Emely dan menggenggamnya.
Menarik gadis itu untuk mengikutinya menyeberang jalan. Ia sedikit tak percaya
dengan apa yang diperbuatnya. Tak biasanya ia bersikap lembut kepada seorang
gadis. Bahkan sekarang menggenggam tangan gadis itu. Bergandengan tangan dengan
seorang gadis. Sepertinya otak dan hatinya sedang tak sinkron.
Emely yang masih sibuk menggerutu
tersentak kaget saat tangannya ditarik. Dia hanya bengong menatap tangannya
yang terasa kecil didalam genggaman tangan besar itu. Emely sendiri tak
menyangka. ‘Hangat,’ batinnya. Kedua pipi gadis itu bersemu. Seumur hidupnya
laki-laki yang yang pernah menggandengnya hanya ayah dan kakaknya. Dan ini
merupakan kali pertama untuknya digandeng oleh seorang pemuda.
Kakinya pun reflek mengikuti pemuda itu
menyeberang. Karena letak kedai mie ayam yang berada di seberang. Setelah
sampai di walking street pun pemuda
juga belum melepaskan tanganya. Baru setelah mereka sampai di kedai genggaman
itu terlepas.
“Sudah sampai.”
“Aa....
Sebagai rasa terima kasihku karena telah menemaniku kesini akan ku traktir kau
mie ayam.”
“Hn?” Pemuda itu menaikan salah satu
alisnya. “Tujuanku memang mau kesini, kau sendiri sudah menebaknya tadi. Jadi, tak perlu. Lagipula aku tak terbiasa
makan ditraktir oleh seorang gadis.”
Sepertinya harga diri pemuda itu terlalu
tinggi. “Tapi... ”
“Ya?” Gadis itu mengadahkan kepalanya
menatap mata pemuda yang tingginya satu kepala diatasnya.
“Jika kau berkeras, kau boleh menemaniku
makan, tapi tetap aku tak mau kau yang bayar”.
Uh! Disini jadi terlihat sang gadis yang
seolah-olah mengejar pemuda itu. Merasa tak ada pilihan lain, daripada dia
harus makan sendirian seperti orang hilang, jadi tak apalah. Lagipula dia juga
tak merasa dirugikan.
Gadis itu tersenyum. “Kalau begitu, ayo!”
_._._._._._._._._._._._
Selang beberapa menit mereka menunggu
pesanan, sialnya kedai ini juga terkena jatah listrik padam. Alhasil, sekarang
mereka berdua makan mie ayam dengan lilin sebagai penerangannya. Entah
kebetulan atau tidak pelanggan kedai ini hanya mereka berdua. Jadi, berasa candle light dinner, eh?
“Sepertinya aku belum pernah melihatmu
sebelumnya, anak baru?”
Emely menggangguk bersemangat, tak
menyangka pemuda itu akan mengajaknya berbicara. “Umh! Aku baru sebulan disini.”
Selanjutnya obrolan terus berlanjut
sampai pesanan mereka datang. Namun, ketika acara makan berlangsung dalam diam.
Tak lebih dari dua puluh menit berlalu isi dalam mangkuk telah tandas.
_._._._._._._._._._._._
“Kok masih gelap ya?” Emely bergumam
lirih.
Tanpa disadarinya seseorang disampingnya
masih dapat mendengarnya. “Disini memang masih gelap, tapi biasanya di asrama
sudah nyala. Takut gelap?”
Sejujurnya Emely malu mengakuinya.
Meskipun kata-kata pemuda itu terkadang pedas dan tak bersahabat, setidaknya ia
telah berlaku cukup baik padanya. Anggukan lemah sebagai jawabannya pada pemuda
itu.
Setelahnya Emely merasakan jemarinya
kembali hangat. Tangannya kembali digenggam oleh seorang disampingnya. Pemuda
itu menunjukkan kepeduliannya kepada Emely dengan bagaimana caranya
memperlakukan sang gadis. Emely sendiri terasa menikmati perlakuan pemuda itu.
Mereka –Emely dan sang pemuda- berjalan
berdua dalam keremangan sinar bulan, dengan saling bergandengan tangan. Orang
lain yang melihatnya mungkin bisa mengira mereka sepasang kekasih. Namun
nyatanya mereka hanya orang yang baru bertemu dalam tabrakan yang tak
diharapakan. Umm, hei, lantas bukan berarti pertemuan mereka ini tak pernah
mereka harapkan, kan?
“Emely!” Terdengar seruan dari arah
asrama, kemudian disusul seorang yang berlari kearah Emely, sepertinya ia yang
memanggilnya tadi.
“Hei, Ran.” Sahut Emely.
Ran yang merupakan roommate Emely tanpa sengaja menatap sepasang tangan yang masih
bertautan. Sampai pemilik tangan itu tersadar.
“Ah.” “Aa.”
Serentak mereka saling menarik tangannya.
Suasana kikuk menyelimuti keduanya, sedangkan sang pengganggu hanya
senyum-senyum tanpa dosa.
“Ups! Sorry, kalau aku mengganggu.”
Emely tambah gelagapan, ia tak pernah
tertangkap sedang berduaan dengan laki-laki sebelumnya. Dan ia juga tak
menyangka kalau rasanya akan segrogi ini.
“Ee.. Ran.. ini tidak-”
“Sebaiknya aku kembali ke asrama dulu.
Permisi,” pemuda itu menghentikan kalimatnya sejenak, kemudian menatap gadis
disampingnya, “Emely.” Tanpa menunggu
jawaban Emely ia langsung berbelok menuju asrama putra.
Emely hanya mematung memperhatikan
sampai pemuda itu menghilang dibelokan. Ia bahkan tak menyadari ada seseorang
yang lain yang sedang gondok karena merasa tak dianggap kehadirannya. Tapi itu
hanya sesaat, sampai tergantika oleh senyuman jahil dibibirnya.
“Cie.. cie.. yang habis kencan.”
Seketika wajah Emely kembali menghangat,
malu. “Apaan sih.” Bahkan ia sendiri tak mau menyangkal kata-kata temannya.
“Jadi, siapa namanya?”
“Nama siapa?”
“Ck. Pemuda itu. siapa lagi?”
Emely tersentak, baru menyadari bahwa ia
memang belum tahu nama pemuda itu. “Errr... tidak tahu.”
“WHAT? KAU KENCAN DENGAN PEMUDA, DAN KAU
TAK TAHU NAMANYA??”
Emely langsung membekap mulut
sabahatnya. “Pelankan suaramu. Kau membuatku malu.”
Dibalik tembok yang membatasi arah
pandang jalan ini dengan jalan ke asrama putra, bersender seorang pemuda yang
dimaksud sedang menahan senyumnya. “Hm,
jadi gadis itu belum tahu namaku ya?”
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar