Seharusnya aku tak perlu terluka. Seharusnya aku tak perlu
merasakan sakit ini. Toh ini hanya lah sebuah air yang menari dari langit. Ini
hanya berupa tetesan-tetesan air yang terjatuh. Hanya liquid yang tumpah dari
awan-awan. Hanya saja, apapun mereka dan kau menyebutnya bagaimana, tapi
bagiku itu tetaplah gerimis. Hujan yang belum menderas.
Dan bagaimanapun wujudnya gerimis selalu meninggalkan luka
tersendiri dihatiku. Sayatan yang mengering seakan disiram kembali dengan air
garam kemudian ia kembali menganga dan merona. Memamerkan betapa
menjiijikkannya luka itu. Luka yang mungkin tak bisa tersentuh oleh air. Perih, pedih dan mengiris.
Gerimis yang datang selalu menggoreskan luka baru di
tumpukan luka lama. Gerimis seperti hatiku yang selalu hujan.
Gerimis itu kamu. Karena kau yang menyukai gerimis. Dan
di bawah gerimis juga kau bertemu denganku. Saat gerimis kau meyatakan
keinginanmu menjaga dan memiliki hatiku. Aku masih menerima itu. Aku juga
bersyukur akan hal itu. Tapi semua keindahan gerimis meluruh bersama dengan
terbenamnya jasadmu di liang lahat beberapa bulan lalu.
Seperti kau yang menyukai gerimis dan basah. Mungkin juga
luka ini akan selalu tercurah air gerimis dan basah. Seolah gerimis itu tak
mengijinkan lukaku mengering.
Meski begitu aku tak pernah menolak gerimis. karena dengan
berdiri di bawahnya aku sedikit mendapatkan perlindungan. Aku tak perlu sok
kuat. Aku tak perlu menutupi wajahku. Sebab sang geimis telah membantuku
memudarkan gerimis lain. Gerimis yang berasal dari mataku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar