Berdiri di bawah pohon di tengah kota seperti ini tak cukup untuk melawan panasnya siang ini. Kota ini luar biasa. Tapi aku merindukan kampung halamanku. Dekat pegunungan yang sejuk dengan ribuan pohon tumbuh menghijau di sekitarnya. Sejuk untuk dipandang maupun untuk dilihat.
Saat ini di sampingku, Mey mulai menghentakkan kakinya. Kesal menunggu dua rekan kami yang tak kunjung menunjukkan hidungnya meskipun mereka bilangnya tak akan lama. Ini sudah menit ke 16 sejak mereka berdua pamit, meninggalkan aku dan Mey menunggu di tempat asing. Yah, setidaknya ini tempat asing bagiku karena ini kali pertama aku kesini.
"Ini sudah hampir dua puluh menit dan mereka berdua belum kembali? Oh Tuhan, tabahkan aku."
Sepertinya ocehan Tuan-Putri-Mey segera dimulai.
"Jangan berlebihan Mey. Ini baru enam belas me-"
"Sama saja Rin. Paling-paling Mike melihat kedai buka saat di jalan, dan tak bisa menolak untuk tak mencicipi makanan. Seperti yang kita tahu bagaimana terobsesinya Mike dengan makanan." Suara Mey mengecil kata terakhir saat mendengar dua pemuda asing menyapa kami. Kami tak menyadarinya. Mereka sudah ada di hadapan kami.
Terlalu dekat. Terlalu dekat. Toleransiku terhadap orang asing tak terlalu bagus. Mungkin kalau aku harus mengatakannya dengan lebih jelas; aku tak menyukai orang asing.
Oh, aku berharap aku tak menyetujui ajakan si kembar Mey dan Mike untuk datang melihat festifal ini. Ide meringkuk di sofa di kamar dengan novel-yang-ingin-segera-aku-selesaikan-membaca terdengar menggoda. Tapi itu semua hanya terjadi di kepalaku, karena kenyataannya aku sekarang di sini dengan dua orang asing di depanku.
Pemuda asing itu terus saja berbicara kepada kami. Seorang bertanya apakah kami sedang menunggu orang, yang lainnya menyambungnya dengan mengajak kami untuk pergi bersama mereka. Seolah kami akan mau saja!
Aku sedikit berjalan mundur. Tangan yang berada di tali tasku mengerat.
"Maaf. Kami memang sedang menunggu seseorang." Mey berbicara dengan tenang walaupun dalam hati aku juga tahu dia juga ketakutan seperti aku. Tapi tidak dalam kadar yang sama.
"... iya cepatlah. Kami sudah hampir kering seperti ikan asin menunggu di sini."
Suara yang tak asing tertangkap gendang telingaku. Mike berjalan dari belakang dua pemuda asing ini dengan handphone di telinganya. Sepertinya dia sedang berbicara dengan Rama atau Jun. Dua teman sekelas kami yang lain yang akan ikut ke festival.
Mey menghela napas lega mengetahui kehadiran kembarannya. Matanya mengikuti gerakan Mike yang berjalan kesamping Mey dan berdiri dengan santai di sampingnya. "Hm. Oke." Dengan Mike masih melanjutkan percakapannya.
Aku menyadari suara-suara pemuda asing itu mulai memudar. Menolehkan kepalaku ke samping yang lain. Dan dia sudah berdiri di sebelahku. Dengan santainya memainkan HP, sedang tangan yang lainnya dimasukkan ke saku. Tanpa kusadari senyum konyol muncul begitu saja di wajahku. Melirik sebentar ke dua pemuda asing tadi mereka sudah menghilang. Secercah perasaan hangat merembes ke hatiku.
Kembali memperhatikan dia yang masih asik dengan gadgetnya. Kini senyum tulus sudah menggantikan senyum konyol yang tadi seenaknya terlukis di wajahku. "Makasih." Suaraku hampir seperti sebuah bisikan.
Satu alisnya terangkat sedikit. "Hm?" Dan wajah yang biasanya tanpa ekspresi itu kini sedikit menoleh padaku.
"Makasih, sudah ada di sampingku."
"Aku tak mengerti apa maksudmu." Nada datarnya yang biasa.
Tapi aku tak bisa menghentikan diriku untuk tetap merasakan kehangatan di hati ini saat sudut bibirnya sedikit tertarik keatas. Senyum khasnya itu!
Dia. Ya, dia. Pemuda yang seenaknya telah mencuri hatiku sejak sepuluh tahun yang lalu. Dan bodohnya aku yang baru menyadarinya akhir-akhir ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar